RSS

Aku Tak Ingin Beranjak

Seperti menghirup udara segar di tengah polusi, saat kupunya beberapa jam untuk kembali bersamamu. Berjalan jauh lagi, padahal dulu kita sangat sering melakukannya. Dulu, ah rasanya baru kemarin, ketika setiap pagi kau ketuk pintu kamarku saat aku masih sibuk mengunyah sarapanku. Kau berdiri tegak di pintu, dan membuatku cepat-cepat meneguk susu yang sering masih sangat panas sehingga membuat lidahku terasa aneh.

 

 

Sayang sekali, kebiasaan setiap pagi itu berakhir ketika kita resmi menjadi sophomore. Saat tak memungkinkan lagi kau menghampiriku karena kamar kita bukan lagi dipisahkan oleh koridor antar gedung. Ruang pribadi kita dipisahkan oleh puluhan bahkan mungkin ratusan rumah. Sekalipun masih dalam kawasan yang sama, akan tetapi intensitas kebersamaan kita pun tak lagi sama. Saat ketika aku berjuang menyambut pagi tanpamu, aku baru sadar akan satu hal. Hadirmu, tanpa kusadari dan kuyakin kau pun tak menyadarinya juga, menggelorakan semangatku. Jika kau bilang aku penuh semangat, itu karenamu yang membagikannya padaku tanpa sadar. Jika kau bilang aku tekun, itu pun karena inspirasi dari sikap positifmu. Kini sejak tak ada kamu, semangatku untuk menaklukan dunia tak sepanas sebelumnya. Entah karena terlalu muak pada banyak hal, atau memang karena tak ada lagi hembusan aura positif darimu. Singkatnya, aku berbeda tanpamu.

 

 

Senyumku nyinyir menguak setiap memori tentang kita. Antara bahagia yang mengambang manis di udara dan sesak karena rasa kehilangan akan hal-hal itu. Ya, dulu ketika setiap akhir pekan kita pasti menghabiskan waktu di dua tempat. Hanya dua tempat. Supermarket tempat kita membeli kebutuhan sehari-hari dan perpustakaan tempat kita menenggelamkan diri mencari berbagai referensi. Betapa aku merindukan keteraturan seperti itu. Sejak tak bersamamu, akhir pekanku selalu berakhir di tempat-tempat yang tak pernah kuprediksi. Kepentingan organisasi, ke sana dan kemari. Akhir pekan kita hanya dua kali berakhir di tempat berbeda. Satu di Mangga Dua, di salah satu lembaga beasiswa Cina dan di kawasan Senen yang menjual banyak sekali buku itu.

 

 

Aku sangat ingin kembali ke masa itu. Sekalipun sangat menyadari juga, betapapun kuatnya keinginanku tak akan pernah mengembalikan kita. Maka, setidaknya aku hanya ingin bersyukur karena diberi kesempatan melewatkan masa akhir remaja bersamamu. Masa yang penuh krisis itu kita lewati dengan cara berbeda. Bukan di arena penuh kesenangan, bukan di tempat penuh kenyamanan. Kita melewati saat-saat genting itu di tempat yang mengajarkan kita kemandirian, yang menempa kita memaknai perjuangan. Aku bahagia Tuhan mengirimkan kawan seperjuangan sepertimu. Kawan yang bisa menghargai aku sebagai aku, tak peduli pada apapun selain diriku. Kau perlakukan aku sebagaimana seharusnya, tak bermanis kata ketika aku keliru.

 

 

Di sampingmu, aku sungguh merasakan “being smart is not a crime”, “being different is cool”, dan bersamamu aku bisa berkata “be your self is the best way ever”. Kamu yang menguatkanku memegang erat sikapku yang sering tidak sama dengan orang-orang lain. Tanpa sadar, kau membantu banyak dalam upayaku membangun identitas diri. Seperti yang pernah kukatakan, bagiku kau bukan teman biasa yang kata-katanya hanya kudengar sambil lalu. Namun, setelah kuat kucitrakan identitas yang kubangun bersamamu kita tak lagi bisa sering bersama.

 

 

Betapa aku mau tetap menjadi seperti dulu. Ketika kita hanya meributkan soal tugas kelompok yang belum diprint dan rencana pulang serta tiket kereta yang belum ada kepastian. Tapi duniaku menuntunku ke tempat-tempat lain. Mungkin juga, kini arah perjuangan kita telah berbeda. Bagaimana pun aku sangat yakin, kita akan tetap sama-sama menorehkan prestasi di jalan kita masing-masing. Ah tidak seharusnya perbedaan itu merenggut waktu kebersamaan kita ya? Tapi, mau bagaimana lagi? Kita sama-sama tak berdaya dibuatnya. Waktu itu, aktivitas itu, dan berbagai kepentingan sampah itu. Melindas habis kesempatan kita melewatkan hari tanpa tendensi apa-apa.

 

 

Saat tertimpa masalah ini, aku merasa ditegur oleh-Nya, IA yang menghadiahimu untuk hidupku. Telah lama kita tak bersapa, tak mencoba sedikit meluangkan waktu untuk bercengkerama. Kau ternyata masih selalu menjadi orang yang selalu bisa kuandalkan. Kau tetap lah yang mengerakkan tangan dan kaki paling cepat jika kuminta bantuan meskipun kita tak berangkat kuliah bersama lagi, tak lagi belanja atau ke perpus setiap hari Sabtu.

 

 

Kau tetap orang yang sabar menunggu lambannya makanku. Tak pernah berubah sejak kita masih berseragam putih abu-abu. Dan jika kau perhatikan betapa tak bisa diartikannya sorot mataku selama kita makan itu. Aku sedang berpikir tentang banyaknya perubahan sejak kita tanggalkan seragam putih abu-abu kita dulu. Betapa silih bergantinya peristiwa dan orang-orang yang hadir dalam hidup kita. Betapa mungkin kita berdua pun berubah entah sejauh apa.

 

 

Binar matamu saat kau ceritakan tentang seseorang itu, indikasi paling nyata yang membuatku berkesimpulan kita semakin bertumbuh dewasa. Dulu, kita hanya tertawa saat bicara tentang makhluk adam yang menggoda perhatian kita. Dulu, kita bicara soal luka tapi dengan membakar namanya, semua pun turut sirna. Tapi kini, sorot bahagiamu sekalipun diiringi kata tidak dan penolakan, jelas menunjukkan bahwa virus merah jambu itu benar-benar menghampirimu. Sedikit banyak, kutengok diriku sendiri. Sama saja, ingatanku yang sering melayang pada satu orang mungkin juga tanda bahwa virus itu pun menjangkitiku.

 

 

Tapi kita tetaplah kita, masa apapun yang kita lalui tidak mengubah identitas yang kita bangun. Tidak menyamarkan karakter kita yang anti follower. Aku bangga dengan caramu mengatasi setiap kegalauan yang menyapamu. Aku sangat bangga ketika logikamu masih bisa memenangkan segala perasaan yang efeknya entah bagaimana bagi diri kita. Lalu aku? Entahlah, tapi sejauh ini, kurasa aku pun masih bisa cukup mengatasinya.

 

 

Yah, sekali lagi. Aku hanya ingin bersyukur pada-Nya yang menghadirkanmu dalam hidupku. Kamu yang mengumpat bersamaku dengan sangat kompak mengutuki segala hal-hal di sekitar kita yang bagi kita tidak logis dan sangat tidak manusiawi. Kamu yang bersamaku tergelak-gelak tertawa menciptakan lelucon-lelucon kita sendiri. Kadang kita buat tragedi menjadi komedi. Dan aku senang kita melewati setiap pertengkaran kita dengan cara paling bijak.

 

 

 

Ah tak akan habis jika kubicara tentangmu. Bersama atau tidak, aku yakin kita akan selalu bertaut dalam doa. Jika aku pernah mengatakan soal kehilangan rasa percaya, tentulah kau tahu kalimatku yang selanjutnya. Aku percaya persahabatan dan cinta atas nama Tuhan. Aku percaya pada orang-orang yang mempercayai Tuhan dengan sepenuh hatinya, bukan hanya mengenal Tuhan melalui dogma-dogma. Kalaupun kita punya cara yang berbeda dalam menyembah Tuhan kita yang satu itu, yang entah kenapa menciptakan berbagai perbedaan di dunia, bukan berarti kita tak boleh mengikatkan hati dalam rasa tulus atas nama-Nya. Sepanjang kita memang tidak pernah melanggar apa yang dilarang-Nya. Jadi jika lah kau masih menghayati setiap renungan yang kau baca dan masih menjadikan kitab suci sebagai pelipur lara, tentu kau juga tahu aku meletakkan rasa percaya itu padamu. Semoga selalu begitu.

 

 

menjelang dini hari di kamar kos tercinta,

dalam luapan kerinduan

_Rina Noviyanti_

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 22, 2012 in Uncategorized

 

Untukmu

Bohong, kalau kubilang tak ada debar di hatiku

Ketika kudengar sanjung dan pujimu

Dusta, kalau aku mengaku

Kata-kata dan sikap manismu

Sama sekali tak berpengaruh pada diriku

 

Aku hanya seorang gadis biasa

Yang baru saja beranjak meninggalkan masa remaja

Melangkah menuju awal masa dewasa

 

Tentu saja, aku tersipu mendengar pujianmu

Hanya gelap malam yang terlalu baik, menutup rona merah di pipiku

 

Jelas saja aku melayang, mengetahui bayanganmu tentang hari depan

Yang penuh rencana dan harapan

 

Pasti aku bahagia, menjadi bagian yang kau akui

Kau pertimbangkan mengisi hari-harimu nanti

 

Tapi, ada satu keyakinan tertanam

Sesuatu yang selama ini dikenalkan padaku sebagai iman

Yang menuntunku bersikap mengikuti suatu pedoman

Tentu aku belum sempurna mengikuti apa yang diajarkan

Namun keras aku berusaha untuk senantiasa menerapkan

 

Sebagai gadis biasa dalam masa peralihan

Dengan kadar keimanan yang juga pas-pasan

Tak mudah melepaskan diri darimu dan segala perasaan

 

Kalau aku boleh meminta takdirku

Mungkin kumohon saja terlahir di zaman Rasul dulu

Atau menjadi putri yang dijaga selalu

 

Tapi sudah terjadi bukan?

Meminta pun tak akan ada perubahan

Namun, apakah dengan menjadi diriku yang sekarang

Lantas menjadi alasan untukku melakukan pelanggaran?

 

Apakah lantas kuabaikan saja soal menjaga kehormatan diri?

Mungkin berlebihan, tapi bagiku kehormatan juga menyangkut hati

Satu bagian manusia yang paling sulit dikendalikan ini

Tak ingin aku kotori

Bukan maksudku mengatakan kehadiranmu mengotori

Rasa ini fitrah, sebuah karunia yang indah dan sangat manusiawi

 

Tapi jika kita memaknainya dengan tidak bijak

Anugrah ini pun bisa jadi justru merusak

 

Kita manusia, yang diciptakan-Nya dengan begitu sempurna

Dengan rasa yang dilengkapi akal logika

Kita diberinya otoritas memilih jalan

Mau tersesat?

Atau mau meluruskan kesesatan?

 

Aku dengan normatif tentu memilih lurus berjalan

Dengan segala lika-liku dan keterjalannya

 

Nampaknya, kehadiranmu juga sebagai tanjakan

Yang harus aku kalahkan

Mau tetap melayang dalam buaian

Atau keras menahan gejolak perasaan?

Munafik, kalau kubilang tidak suka kau perhatikan

Palsu, kalau kubilang tidak kecewa saat kau menjauh perlahan

 

Tapi, demi komitmen pada apa yang kuyakini

Aku harus melakukan ini

 

Maka, bolehkah kumohon padamu?

Berhentilah menyanjungku

Hentikan andai-andai tentang masa depan yang ingin kau bangun denganku

 

Semua itu terlalu indah untuk kuterima

Terlalu menjauhkanku dari kenyataan yang ada

Terlalu menguji iman kita

Apakah kita sudah tidak percaya

Bahwa ada satu nama tertulis di Lauh Mahfuz untuk kita?

Jika kini kita mencoba-coba

Bukankah hanya mengkhianati apa yang telah kita percaya?

 

Sekalipun tangan kita tak bersentuh

Namun yakinkah hati kita tak bergemuruh?

 

Bukan aku melarangmu mendekatiku

Tapi aku ingin didekati dengan aturan yang sama-sama kita tahu

Aku ingin adil pada pemilik nama di Lauh Mahfuz itu

Dengar, aku sangat bahagia menerima semua perlakuanmu

Namun sebahagia-bahagianya diriku

Aku lebih bahagia menerima seseorang yang berani menemui ayahku

 

Seseorang yang menunjukkan tanggung jawab untuk menapaki hari dengan putri tercinta ayah di bawah naungan janji atas nama-Nya

 

Jika orang itu kamu, sampai kapan pun aku akan menunggu dengan sabar

Menunggu tibanya saat kau mantapkan keyakinan

Melalui istikharah yang pernah kau pelajari di bangku sekolah, madrasah, atau mungkin melalui buku agama

Jika aku adalah jawaban doa

Maka datanglah dengan ksatria untuk meminta

Memohon restu orang tua

Menyempurnakan separuh agama dengan ridho-Nya

 

 

Penuh doa

Rina :)

 
Leave a comment

Posted by pada Mei 22, 2012 in Uncategorized

 

Laki-laki dan Kata Percaya

Dua puluh tahun hidup sebagai perempuan aku tak benar-benar pernah merasa sesedih ini. Menghayati keperempuananku. Terlepas dari apakah yang kubicarakan kini menyangkut gender atau bukan, aku tidak peduli. Otakku sedang sangat rumit mengurai cerita yang hadir di hadapanku. Hatiku sedang begitu terluka menyaksikan betapa perempuan benar-benar menjadi korban. Tentu saja ini bukan yang pertama kali aku menjadi saksi hal yang demikian. Tapi entah mengapa, kali ini aku benar-benar seperti dapat merasakan luka dan derita yang ditanggung oleh orang-orang ini. Aku dapat merasakan perih teramat mendalam di dasar hati menyaksikan air mata seorang perempuan bercucuran. Aku hanya bisa terpaku menyodorkan tisu dan jadi seperti orang bisu. Untuk sekedar mengeluarkan kata-kata penghiburan, aku bahkan tidak mampu. Mungkin karena sekarang, kesadaranku sebagai manusia telah terbentuk sempurna bukan kanak-kanak sebagaimana dulu.

Ada empat cerita yang saat ini teramat mengganggu kedamaian hari-hariku. Mengusik semua ketentraman rutinitas kuliah yang sebenarnya memang membosankan. Menarik pikiranku dari jalur Kutek-FIB-Perpus-Pusgiwa saja. Membuka cakrawalaku akan luasnya dunia, menunjukkan sisi kejamnya.

Cerita-cerita tentang “perempuan yang menjadi korban”, baik secara langsung maupun tidak telah kukenal sejak dulu. Mungkin sejak aku belum tahu makna dari kata korban yang sebenarnya. Dekat, dekat sekali cerita-cerita seperti itu dengan hidupku. Kisah yang selalu membuatku tidak mengerti dan berujung pada diskusi panjang dengan ayahku di depan TV atau di atas motor dalam perjalanan Salatiga-Demak. Tapi kini, semua terasa lebih dekat lagi. Mungkin karena hatiku sudah lebih bisa merespon hal-hal sekitar lebih baik daripada dulu. Sayangnya di saat seperti ini, tak ada TV, tak ada motor butut, dan tentu tak ada ayah.
TT

Sedikit banyak, pengalaman menyaksikan hal-hal yang seperti itu membentuk diriku yang sekarang. Menjadikanku perempuan yang dinilai banyak orang “tak berperasaan” ketika telah menyangkut soal cinta. Bukan soal aku tidak bisa mencintai, bukan juga perkara hatiku yang tak tersentuh dengan hal-hal manis. Sungguh bukan begitu, aku juga kelimpungan tak karuan ketika diberi perhatian yang berlebihan atapun ketika diperlakukan manis dan mesra. Tapi dengan segera aku bisa mengatasi perasaan seperti itu, hanya karena AKU BELUM MAMPU PERCAYA.

Silakan saja jika memberikan penilaian apapun tentang diriku. “Tidak berhati” “Terlalu Berlogika”, tak apa, sebut saja semuanya. Mungkin, kalian yang mengatakan itu tak menyaksikan hal-hal seperti yang kusaksikan. Ketika bahkan aku belum tahu apa-apa tentang hubungan laki-laki dan perempuan, aku telah menyaksikan orang terdekatku dimadu. Bukan dijadikan istri kedua, namun jadi istri yang entah keberapa. Bisa jadi yang kelima, enam, delapan atau mungkin yang kesekian belas. Yang jelas bukan empat, karena istri keempatnya masih diakui secara resmi.

Ia adalah sosok perempuan yang menginspirasiku tentang kekuatan selain dari bundaku. Bunda adalah perempuan tangguh yang selalu bisa diandalkan, ia mengendarai motor tengah malam jika ayah tak bisa menjemputnya dari tempat kerja. Bunda tetap bangun pagi-pagi walau tak tidur sama sekali malam sebelumnya dan selalu menyelesaikan entah berapa pekerjaan setiap harinya. Tentu ini membuatku bertekad untuk menjadi kuat. Akan tetapi perempuan ini menurutku jauh lebih kuat lagi. Ia kuat bukan dalam arti fisik dan kecakapan sebagaiamana bundaku, namun perempuan ini kuat dalam menanggung beban hidup yang maha berat.

Perempuan ini sebagaimana yang kukatakan, dijadikan entah istri yang keberapa. Ia memiliki dua anak dan tak pernah diberi nafkah oleh suaminya. Bahkan ketika aku mulai SMP, suaminya malah membebaninya dengan sejuta masalah lainnya. Ia tegar, ia berjalan dan terus berusaha menghidupi kedua anaknya. Tanpa ada siapa-siapa di sisinya selain saudara-saudara kandungnya.
Tak sedikit pun keluhan ia keluarkan di tengah semua itu. Bahkan dalam kondisinya yang demikian, ia masih sangat perhatian dengan keluargaku, sangat menyayangi bunda, ayah, dan aku.

Ia kerap bercerita denganku sejak aku mulai bisa diajak bercerita, maksudnya saat aku mulai paham akan beberapa permasalahan. Suatu ketika, saat aku kelas dua SMP aku main ke rumahnya. Aku menanyakan mengapa ia mau memiliki suami seperti itu dan mengapa ia tak meminta bercerai saja. Ia menceritakan padaku sejak awal ia mengenal laki-laki yang menjadi suaminya itu. Bahkan katanya, setelah ijab-qabul suaminya mencuri lagi semua uang yang diberikan sebagai mahar. Astaghfirullah, betapa bahkan sejak menjadi pengantin ia telah harus terluka. Ia memang tak memberiku jawaban yang memuaskan tentang alasannya bertahan. Yang berkali ia tekankan hanyalah cintanya hanya untuk kedua anaknya. Itu saja. Satu luka perempuan tertanam kuat di benakku, satu kekejaman laki-laki membekas dalam pikiranku.

Kemudian, saat aku kelas 4 SD ada lagi orang yang dekat denganku juga tertipu. Ia dihamili oleh orang yang ternyata sudah beristri. Mereka menikah, namun secara materi perempuan ini tak pernah diberi bahkan memberi. Berkali-kali laki-laki ini menipu istrinya dan selalu meminta sejumlah uang. Sampai akhirnya kondisi keuangan mereka benar-benar jatuh. Perempuan ini juga memilki dua orang anak. Aku dekat sekali dengan anaknya. Aku telah menganggapnya seperti adik kandungku. Sejak kecil aku yang mengasuhnya, menyuapinya, memandikannya, dan mengajaknya bermain. Selain karena aku suka anak-anak dan begitu ingin punya adik, aku menaruh simpati padanya. Aku prihatin membandingkan diriku dengannya. Saat aku balita, aku selalu digendong-gendong oleh orang tuaku. Aku diangkat tinggi dan didudukkan di pundak ayahku. Sementara ia, bahkan ayahnya tak pernah ada si sampingnya. Aku hanya ingin menjadi sosok yang membahagiakannya, berbagi kebahagiaan yang kupunya. Kurasa, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Aku sungguh menyayanginya dan rasanya selalu bisa ikut sakit saat melihat tangisnya.

Hingga pada suatu Idul Fitri, pada malam takbir ketika di mana-mana mengumandang asma-Nya banyak orang terdekatku berkumpul. Saat itu, lebaran pertama tanpa nenekku, syahdu sekali. Bunda telah lama terisak, mungkin rindu akan kehadiran nenek. Ayah bertakbir lirih di sampingnya. Aku yang baru pulang dari mushola setelah bercanda dengan kawan-kawan sebaya segera duduk bersimpuh di bawah. Aku memegang tangan keduanya sambil ikut menangis. Aku lupa pastinya alasanku menangis, mungkin sedang bersyukur karena pada saat seistimewa itu aku diperkenankan bersama-sama orang tersayang. Anak yang amat kusayang itu pulang dari mushola bersamaku. Melihatku bersimpuh di hadapan orang tuaku, ia menangis. Padahal ia baru kelas 1 SD saat itu, dan ia laki-laki. Melihatnya menangis, aku menghampirinya, memeluknya.

Perlahan kuusap kepalanya sambil berkata:
“Kenapa Dek? Kenapa sayang?”

Sesenggukan ia menjawab:
“Bapak..”

Allahu Akbar! Hanya satu kata darinya tapi membuat air mataku semakin deras mengalir. Dalam suasana penuh gema takbir, tak ada ayah yang begitu diinginkannya. Mungkin ia amat iri padaku yang bisa memeluk ayah dan bundaku kapan pun aku mau. Ya Allah, laki-laki itu! Betapa tidak bertanggung jawabnya ia! Berani memiliki dua istri dan tak mampu bersikap adil bahkan merugikan secara materil. Ibu dari anak ini, memilih untuk bertahan juga dengan alasan anak-anaknya. Aku gadis 16 tahun yang menjadi saksi ketidakadilan laki-laki. Satu anak terdzalimi, satu laki-laki melekatkan bayang ketidakadilan di otakku.

Kemudian, ada kisah dari pulau seberang. Kisah yang juga dari orang terdekatku. Seorang gadis yang cantik dan cukup pintar. Belum sampai ia selesai kuliah, ada seseorang yang meminangnya. Singkat cerita pernikahan ditentukan. Namun pada hari pernikahannya, ketika ia telah lengkap dengan riasan pengantin, mempelai pria tidak datang. Aku tak bisa membayangkan lagi bagaimana sakitnya ia. Pasti sakit dan malu sekali. Namun akhirnya ia tetap bersama laki-laki itu dan dikarunia seorang anak. Berbeda dengan dua perempuan sebelumnya, ia lebih memilih meminta cerai dari suaminya yang ternyata juga telah beristri itu. Ia tak mau jadi yang kedua tanpa restu. Satu kepayahan seorang perempuan tergambar, satu lagi laki-laki menyulut rasa benciku.

Masih ada lagi kisah pahit yang juga dari orang terdekatku. Saat hendak hijrah ke Depok atau saat aku baru lulus SMA, ada seorang gadis yang hamil dan ditinggal begitu saja oleh orang yang menghamilinya. Bahkan laki-laki itu memberikan alamat palsu sehingga ketika akan dimintai pertanggungjawaban, keluarga si gadis tak dapat menemukannya. Tak kuat menanggung malu, gadis ini dikirimkan ke Kalimantan oleh orang tuanya. Baru setelah bayinya dilahirkan dan berusia dua bulan ia kembali ke Jawa. Keterbatasan ekonomi membuatnya pulang ke Jawa bersama bayi yang masih merah itu dengan kapal laut. Masya Allah, bayi berusia dua bulan telah diajak menyeberang pulau dan terombang-ambing di tengah samudra. Aku menitikkan air mata ketika bundaku sambil memasak menceritakan kisah ini padaku. Betapa aku mengutuki ayah bayi itu. Bayangan seorang baru melahirkan menggendong bayinya di dalam kapal laut selama puluhan jam membuatku mataku memanas. Satu ketidaknyamanan seorang bayi memunculkan rasa haru, satu laki-laki sangat ingin kucari dan kumaki.

Itu hanya kisah orang-orang terdekatku di masa lalu. Kisah yang bagiku tergambar sangat hitam. Terasa sangat pahit. Selain orang-orang terdekat, aku menyaksikan berbagai macam hal lainnya. Kekerasan sampai ke area prostitusi yang sering kulewati. Aku terlalu rajin bertanya pada ayah sehingga aku pun jadi cukup tahu keadaannya. Menyakitkan, betapa banyak perempuan menjadi korban. Bukan, aku bukan feminis! Aku bahkan rela dimadu oleh suamiku nantinya jika itu memang hal yang bisa membahagiakannya. Tapi sungguh aku tak rela jika melihat kekejaman dilakukan pada perempuan. Tentu saja, yang lebih mutlak lagi, aku tak mau menjadi korban!

Tadi baru hal-hal berat yang kuceritakan, masih banyak pula cerita tentang sahabatku dengan para kekasihnya. Sering pasangan menjadikanku sebagai tempat berbagi cerita. Hasilnya, aku tahu sudut pandang keduanya. Selalu, perempuan lebih menganggap serius suatu hubungan sementara laki-laki tak mengambilnya seberat itu. Ada 1 atau 2 laki-laki yang tak begitu, tapi bayangkan itu hanya satu dua di antara puluhan yang bercerita padaku. Langka!

Tapi tunggu dulu, bukan berarti aku menafikkan laki-laki baik yang hadir dalam hidupku. Ada! Tak perlu lah kuceritakan, intinya ada. Yang tetap setia bahkan sampai istrinya meninggal dunia juga ada, yang amat mencintai istrinya dan selalu mengabulkan setiap permintaan juga ada. Pokoknya yang baik itu ada bahkan jauh lebih dekat denganku daripada orang-orang kurang beruntung yang kuceritakan tadi.

Aku sebenarnya telah hampir tak mengingat lagi tentang cerita-cerita tadi. Namun empat kisah yang baru-baru ini kusaksikan dan kudengar membuat semua memori tentang itu terkuak. Sayangnya, kisah-kisah ini lebih buruk. Jauh lebih buruk daripada kisah-kisah yang kutahu di masa lalu. Perempuan-perempuan yang kutahu masalahnya kini, bukan hanya korban dari satu laki-laki. Namun mereka korban dari banyak laki-laki. Ya Allah, kehidupannya… Aku tak mampu menceritakannya, tak sanggup mengubah kisah ini mejadi deretan huruf yang ada di halaman blogku. Tidak, mungkin nanti. Tapi saat ini, aku masih merasa tidak mampu.

Maka, jika sekarang aku sekeras ini, setidakmudah itu untuk menunjukkan sikap dengan hati, kurang lebih itu alasannya. Aku hanya belum mampu percaya. Bagaimana kepercayaan itu ada ketika terlalu banyak pahit yang ditimbulkan oleh kaum adam dihadirkan di depan mata sejak aku masih terlalu belia?

Namun, sekali lagi kutekankan aku masih yakin laki-laki baik itu ada. Saat ini aku belum percaya bukan berarti aku tidak akan pernah bisa percaya selamanya. Kelak, entah dalam waktu dekat atau kapan pun itu mungkin aku akan bersikap penuh perasaan. Aku akan menunjukkan rasa cinta yang kupunya jika memang yang layak dipercaya itu telah tiba.

Sepanjang dan sebanyak itu kisah yang kusaksikan dan kudengar, aku hanya dapat mengambil dua pelajaran.
1. Bersyukur! Aku telah dianugerahi kehidupan yang luar biasa, dengan cerita-cerita dan orang-orang luar biasa di dalamnya. Kehidupan yang membahagiakan jika aku mampu bersikap tepat. Bahkan aku diberi pelajaran dengan ditunjukkan cerita-cerita itu oleh Allah. Aku mensyukuri orang tuaku dan Islam. Subhanallah… Aku mensyukuri takdirku menjadi pemain figuran dalam drama mereka. :)
2. Berkaitan dengan hal di atas, nikmat Islam! Sungguh nilai-nilai Islam yang kupegang sangat ampuh untuk menghindari hal-hal seperti di atas. Aku yakin, akan ada pemegang nilai Islam lain yang benar-benar memegangnya yang kelak bisa menumbuhkan rasa percayaku. Aku memang tidak tahu, sosok ini telah Allah hadirkan dalam hidupku atau belum. Tapi aku yakin ada, ia yang namanya telah terpahat di Lauh Mahfuz untukku.

Semoga tak ada korban-korban lain. Semoga setiap orang yang diuji mampu menyikapi ujianya secara tepat. Semoga kalimat penutupku yang galau itu tidak mempengaruhi kestabilan emosiku saat ini..
:P

#bukanfeminis
Rina

 
Leave a comment

Posted by pada April 20, 2012 in Uncategorized

 

Liburan Penuh Warna #part3

5. Salatiga!
Ini adalah kota kelahiranku. Kota yang kutinggali selama hampir 13 tahun. Kota yang mendidikku tentang banyak sekali hal. Dan pada libur semester 5 ini aku tak mau melewatkannya. Aku berkunjung ke sana meskipun hanya sehari bahkan tak sempat menengok rumahku. Sekitar pukul 11 aku tiba di depan SMAku. Kini, telah banyak yang berubah.

Usai mengambil beberapa foto di sekolah, aku dan kedua temanku menuju salah satu kafe yang dulu sering kukunjungi. Kafe yang makanannya enak sekali. Kedua temanku memesan es krim yang sungguh menggiurkan, sedangkan aku seperti diuji keimanannya. Ya hari itu hari kamis dan sayangnya aku sedang tidak bisa makan sampai maghrib tiba. Akhirnya aku berfoto dengan es krim yang menggiurkan itu, setidaknya foto bisa sedikit mengobati rasa rinduku.

Usai menemani mereka makan es krim kami berjalan ke kampus UKSW dan tanpa sengaja bertemu teman sebangkuku dulu. Kami berpelukan di depan banyak orang. Ah, siapa peduli, aku merindukannya. Kemudian, kami berjalan-jalan ke pusat kota. Bermain timezone layaknya dulu. Bersenang-senang! Main Dance Dance Revolution (DDR), balap mobil dan motor. Yah meskipun kemampuan timezoningku menurun drastis aku tetap saja menikmati main-main itu. Kapan lagi aku bisa melakukan hal-hal itu? Di Depok, semua itu benar-benar hanya ada di dalam mimpi. Ya, es krim super enak, DDR, dan timezone tidak mungkin bisa kudapatkan di Depok. Meski biasanya aku suka sendiri, tapi untuk main-main seperti ini tentu harus ada teman dan di Depok, siapa yang mau menemniku? :D

Setelah itu, kami bertiga harus terpecah. Salah satu temanku harus ke rumah neneknya sehingga aku hanya tinggal berdua sahabat karibku. Kami pergi ke sebuah asrama dengan panorama sangat indah. Namun sayang sekali kami tak mendapat izin untuk berfoto di sana. Akhirnya, kami berganti rencana mengunjungi tempat favoritku ketika aku galau dulu.

Kuburan Cina! Ya kami ke kuburan Cina dan banyak mengambil foto. Hasilnya luar biasa indah. Orang tak akan menyangka bahwa gambar-gambar itu diambil di sebuah kuburan. Aku benar-benar bahagia. Kalau laskar pelangi bisa menikmati semilir angin laut, maka aku dan sahabatku menikmati semilir angin kuburan. Ditemani rumput-rumputnya yang bergoyang. Suasana galau ini hanya ada di sini, dan aku merasa beruntung memperoleh kesempatan menikmati suasana ini di sela-sela liburanku. Semoga, kegilaan kita tak pernah tergerus masa Sahabat, meski kemarin entah kenapa aku merasa ada yang berbeda. 

Salatiga, kota kita bertemu dan akan selalu menjadi kenangan kita. Namun Depok, kota kita sama-sama berjuang dan akan menjadi saksi kita meraih masa depan. Dalam perjalanan keduanya, rintangan mungkin hadir silih berganti, namun satu yang pasti aku tetap menyayangimu karena bagiku kau hadiah dari-Nya.

6. Semarang!
Di sini orang tuaku tinggal. Saat tiba di Semarang, aku dan temanku ketiduran sehingga turun di tempat yang tak kami harapkan. Di terminal ujung kota Semarang. Beruntungnya orang tua kami segera datang. Sejak itu hari kami dipenuhi rapat mempersiapkan try out yang paguyuban kami selenggarakan. Aku juga sempat menginap di rumah temanku yang benar-benar rumah Belanda. Menakjubkan!

Sampailah di hari H kami mengadakan acara. Aku diamanahi menjadi moderator dalam talkshow yang diadakan. Bahagianya, acara ini diliput media TV dan surat kabar Jawa Tengah. Namun yang menimbulkan kesan mendalam bagiku adalah ada satu siswa yang sampai menangis. Aku memang memberikan kalimat penutup yang sengaja kubuat menyentuh dan memotivasi mereka, sementara pembicara sebelumnya pun memberikan materi yang memang memotivasi. Luar biasa, aku tak menyangka sampai bisa membuat adik itu menitikkan air mata.

Usai talkshow, aku jalan-jalan seharian dengan seniorku Jerman 2008 dan seorang pembicara yang juga Wakil Ketua BEM UI 2012. Kami menikmati Semarang, mulai dari makan siang tahu gimbal di depan SMA 1 sampai ditutup dengan memandang kota Semarang dari Gombel, kawasan Semarang atas. Hari itu asyik sekali, kami sholat dzuhur di Masjid Agung Semarang yang luar biasa menawan, naik ke menara 19 lantai dan memandang seluruh kota Semarang. Makan es krim layaknya anak TK, padahal sudah mahasiswa. Setelah itu mengunjungi Sam Po Kong, di sana serasa berada di Cina, Taiwan atau Korea. Lalu kami makan martabak ufo di kawasan belakang Simpanglima, menikmati senja. Lalu kami ke Paragon Mal, melihat hedonisme sedekat-dekatnya. Baru kemudian menuju Gombel, kawasan Semarang atas, melihat lampu-lampu yang menghiasi kota Semarang bawah. Sebenarnya itu suasana yang sangat romantis, apalagi malam itu gerimis. Kami bertiga menikmati secangkir minuman hangat rasa coklat.

Subhanallah, ini kali pertama aku ke tempat itu malam hari tanpa orang tuaku. Setelah itu, aku ke rumah kakak senior itu di kawasan Banyumanik, menunggu ayah menjemputku.

Kemudian, dijemput ayah lewat tengah malam. Ayah baru tiba di rumah Mbak Puti pukul 00.30. Aku pun dibonceng ayah, ayah naik motor pelan sekali. Seolah tanpa kata kami sepakat mengenang jalanan itu. Waktu SMA aku sering melewati jalan itu bersama ayah dan pernah sekali kami ditabrak orang di sana. Kami baru tiba di rumah pukul 01.30. Karena telah begitu larut, aku memilih menunggu waktu untuk sahur. Dalam penantian itu, aku diam merenung. Aku merasa banyak pelajaran yang kupetik hari itu. Nasihat-nasihat dari para senior itu, anak SMA yang menangis itu dan semua yang kujalani hari itu kuresapi benar-benar. Sampai tibalah aku pada sebuah pandangan yang mungkin juga tak bisa kubagi di sini. 

Lalu, setelahnya pada hari kedua di bulan kedua, aku menghabiskan seharian di Pesta Buku Gramedia. Memborong banyak sekali buku. Dan sisanya kunikmati dengan memasak , membaca, dan banyak tidur di rumah sehingga berat badanku naik. Sampai tibalah hari aku kembali ke Depok. Bersiap berjuang sampai tiba waktu liburan berikutnya. Menanti warna-warna lain yang menghiasi nantinya.

Ya, liburanku penuh warna! ;)

Februari 2012. menjelang usainya libur semester 5
Rina Noviyanti

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 12, 2012 in Uncategorized

 

Liburanku Penuh Warna #part2

3. Bandung!
Menarik saja perjalananku ke Bandung meski aku hampir bisa dibilang tak ke mana-mana selain di kosan seorang temanku yang kuliah di UPI. Tak masalah, aku ke sana hanya untuk memenuhi janji untuk mengunjungi temanku itu. Setidaknya selama liburan aku ke Bandung, dan tentunya Bandung tetap meninggalkan kesan mendalam meski aku di sana hanya beberapa jam. 

Hari itu, 18 Januari 2012 aku memenuhi janji dengan seorang investor berdiskusi dengannya di sebuah resto mewah di kawasan Kuningan. Berbincang kesana-kemari dan bagiku terasa kaku sekali sambil menikmati hidangan yang kami pesan. Setelah itu Bapak Budi, investor kami itu meminta bill dan aku melirik nominal yang tercetak di sana. FINE! Kami makan hanya berlima dan menghabiskan 1juta 70sekian ribu. Kalau di Kutek (daerah kosku) aku bisa makan seratus kali lebih dan hari itu aku hanya menghabiskannya untuk sekali makan. Jleb, sakit sekali rasanya aku menelan makanan itu karena bayangan anak-anak peminta-minta di Manggarai yang kutemui dalam perjalanan ke sana di pagi harinya melintas di pikiran.

Usai pertemuan itu aku segera kembali ke Manggarai dan cepat-cepat naik kereta ke Depok. Turun di Stasiun UI dan berganti bis MGI jurusan Depok-Bandung. Di dalam bis ber-AC sangat dingin itu lah aku kembali menikmati kesendirianku. Memandang keluar jendela dan membiarkan angan berkelana. Aku tiba di Termina Leuwipanjang saat maghrib, Alhamdulillah… setelah itu, ternyata aku masih harus naik angkot dua kali lagi.

Hari mulai gelap, dan aku sama sekali belum pernah naik angkot di Bandung sebelumnya. Bismillah, hanya kalam-Nya yang selalu kulafalkan. Kupercaya sebagai “teman”. Lama sekali ternyata, aku tiba di tempat tujuan sekitar pukul 19.30. tak kusangka aku ternyata membelah kota Bandung dari ujung ke ujung. Yah, menarik sekali, malam-malam seorang diri membelah kota Bandung, menyaksikan gemerlapnya. 

Setelah itu, di kos temanku aku mendapatkan cerita yang sampi sekarang tak henti kurenungi. Sebuah warna kehidupan yang benar-benar membuatku merasa belajar. Satu kisah yang semakin membuatku sulit mempercayai laki-laki. Ah, kalau kuungkapkan cerita tentang ini orang akan menyebutku galau lagi. Biar saja, ini jadi cerita yang membuatku belajar tanpa perlu kubagi di sini. :D
Kemudian, kutinggalkan Bandung dan harus kuhadapi macet di Bekasi karena demonstrasi pekerja. Aku sampai di Depok telah sangat larut dan enggan melakukan apa-apa. Terkapar sampai keesokan harinya. Terima kasih untuk sebuah pengalaman menarik di masa muda ini Bandung… 

4. Bintaro!
Salah satu janji yang kumiliki adalah mengunjungi seorang teman yang kuliah di STAN. Sebelum aku pulang untuk liburan aku memang ingin menunaikan semua janjiku. Maka sehari sebelum pulang ke Semarang aku ke STAN. Sekali lagi, sendiri dan sebelumnya belum pernah ke sini naik kendaraan umum.
Standar saja, aku naik kereta ke Manggarai, lalu ke Tanah Abang dan lanjut lagi ke Pondok Ranji. Sialnya aku menunggu sangat lama di Manggarai dan Tanah Abang. Menyaksikan berbagai aktivitas orang. Mulai dari anak SMP yang sms-an, bapak dan ibu yang saling membantu, sekelompok pemuda yang memanjat kereta dan ditangkap petugas stasiun sampai pedagang asongan. Ya, menarik saja. Aku hanya mampu terdiam menyaksikan semuanya. Takjub, karena keseharianku jauh dari fenomena-fenomena ini. Sehari-hari aku hanya akrab dengan sekelompok orang yang mengeluhkan tugas-tugasnya, atau kesibukan berorganisasinya beberapa juga bercerita panjang tentang kegalauan masa depan dan asmaranya.

Menyaksikan orang-orang di sepanjang perjalanan Depok-Bintaro benar-benar membuatku termenung, sampai-sampai aku bingung pada hal-hal yang muncul di pikiranku. Terlalu banyak pertanyaan. Dan di STAN aku hanya makan di kantin mahasiswanya, Plazma, ya di Plaza Mahasiswa. Kemudian sedikit berfoto lalu sholat maghrib dan ngotot untuk minta diantar ke stasiun setelah selesai sholat. Padahal hari telah larut. Entah berapa banyak bahaya yang bisa mengancam orang di perjalanan apalagi untuk seorang gadis dalam perjalanan malam tanpa kawan. Tapi entah mengapa, aku selalu saja nekat menembusnya. Dan Alhamdulillah aku kembali mampu menyelesaikan perjalanan sendirianku ini. Semoga lindungan-Nya selalu tercurah padaku.. 

Keesokan harinya, aku pulang ke Semarang. Ketinggalan bis dengan cerita yang sangat konyol. Aku tidak sadar waktu sampai hampir satu jam terlambat. Untungnya bis itu masih menungguku. Satu cerita manis sebelum pulang.

_bersambung lagi_

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 11, 2012 in Uncategorized

 

Liburanku Penuh Warna #part1

Liburanku… Riau – Bandung – Bintaro – Salatiga – Semarang!
1. Alone but not lonely
Sudah dua kali liburan aku memilih bepergian sendirian. Liburan semester lalu aku ke Riau seorang diri, kini aku memperpendek jarak, hanya ke Bandung. Semester lalu, aku sendirian ke bandara kemudian menikmati cantiknya angkasa dari jendela pesawat tanpa kawan bicara. Kini, aku menikmati aneka panorama mulai dari kemacetan, sawah nan hijau sampai tebing curam yang disajikan sepanjang perjalanan Depok-Bandung juga tanpa seorang pun di sampingku.
Sebenarnya aku senang dengan kesendirian ini. Aku sering merasa hebat ketika pergi seorang diri. Memuaskan saja rasanya, pergi ke suatu tempat baru tanpa siapa-siapa. Tak tahu apa yang akan dihadapi dan tak bisa mengandalkan seorang pun bila ternyata bahaya yang menunggu. Aku masih seorang gadis, kadang kekhawatiran itu pun muncul. Tapi keberanianku lebih sering memenangkan perang argumen antara khawatir dan kenekatan dalam diriku. Bukan karena aku tak memiliki rasa takut, keberanian ini ada karena aku yakin akan satu hal. Yakin pada penyertaan-NYA padaku dalam setiap langkah yang kutempuh.
Dengan sendiri juga, aku bisa lebih banyak merenung. Berpikir jernih tanpa intervensi. Saat-saat aku jujur pada keinginanku sendiri. Menyenangkan sekali sendirian seperti ini. Sementara hari ini, aku lagi-lagi pergi sendiri. Meski hanya ke Bintaro. Naik kereta arah Serpong yang baru sekali ini kucoba. Transit di Manggarai sampai hampir satu jam. Mati gaya, tanpa satu pun buku di genggamanku dan sesuatu yang sangat mutlak tak satu pun kawan di sampingku. Tapi dengan begitu, aku leluasa mengamati setiap pedagang asongan yang lewat, para penumpang yang berlalu lalang, pemuda-pemuda yang nekat memanjat atap kereta meski sudah ada kawat durinya. Aku bebas berangan-angan menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam diriku. Kalau pergi dengan seorang kawan, pastilah hal ini tak terjadi. Aku pasti lebih asyik bercengkerama dengan kawan seperjalanan dibandingkan merenungi fenomena sosial yang terabaikan ini. Aku tentu lebih senang bercerita kesana – kemari dibanding sibuk mensyukuri diri karena setidaknya hidupku lebih nyaman dari para pedagang asongan dan pemuda pemanjat kereta itu.
Yah, sendiri bukan berarti kesepian. Bagiku, kesendirianku mencerminkan kenekatanku, kekuatanku, kepekaan sosialku, imajinasiku, bahkan keimananku. 
2. Riau!
Aku pergi ke Riau pada liburan semester 4 menjelang semester 5. Menghabiskan banyak waktu libur dengan mengamati kehidupan di pasar tradisional Pekanbaru dan sedikit berjalan-jalan ke daerah transmigrasi yang benar-benar hutan. Yap, aku tak pergi ke tempat-tempat orang berwisata pada umumnya.
Menyenangkan rasanya, setiap pagi usai sholat subuh aku menemani mama ke pasar tradisional di Kota Pekanbaru. Melihat para pengangkut barang yang selalu membuatku berdecak kagum. Betapa kuatnya mereka, demi sesuap nasi berlelah-lelah begitu di subuh buta. Belum lagi para pedagang ikan, dengan ikan-ikan segar yang menggeliat di dalam ember mengeluarkan bau amis tak terkira. Juga para ibu pedagang yang semakin membuatku terpesona. Ya, mereka perempuan-perempuan perkasa!
Mungkin saja sebelum ke pasar di pagi buta itu, mereka telah menyiapkan sarapan untuk putra dan suaminya. Atau mungkin telah mencuci baju-baju keluarganya. Luar biasa! Malu aku menunduk menatap kakiku, memikirkan diriku. Diajak mama keluar usai subuh saja, panjang nian aku mengeluh. Menggerutu sepanjang jalan dan mungkin justru membuat mama enggan. Apa-apaan aku ini? Manja sekali! Apalagi di Depok, lepas subuh dan menunaikan kewajiban dengan Tuhan, aku senam kecil mandi dan membaca. Bukan aktivitas yang membutuhkan banyak energi. Subhanallah, terima kasih untuk karunia hidup nyaman ini Ya Rabb… 
Yah, aku telah belajar banyak sebelum matahari menyembul di ufuk timur. Ketika hari masih gulita dan aneka lentera menyala menemani setiap aktivitas yang ada. Dalam pemikiran orang-orang di pasar itu, mungkin tak terlintas Harvard, Sorbonne, atau bahkan Uttrecht yang selalu ingin kukunjungi. Mereka, entah dengan target apa bisa berusaha sekeras itu. Sementara aku dengan impian sangat tinggi ini, telah melakukan apa??? Malu, sungguh malu rasanya!
Aku sebenarnya telah akrab dengan dunia pasar tradisional. Bahkan sejak pertama aku bisa berjalan mama telah mengajakku berbelanja buah di Pasar Ambarawa. Aroma geliat ekonomi rakyat ini telah kusentuh dekat sejak sangat dini. Dulu, menemani mama berjualan di Pasar Salatiga hanya membuatku menjadi penghitung tercepat di kelas. Memperhatikan mama menghitung uang jualan, memberi uang kembalian pada pelanggan merangsang otakku untuk ikut menghitung apa yang mama hitung. Bukan hitungan dalam jumlah kecil untuk aku yang masih sanga kecil. Maka ketika kelas 2 SD, aku lancar saja mengerjakan soal-soal matematika dengan angka yang bisa dibilang sederhana itu.
Tapi semakin dewasa, pasar tradisional mengajarkanku lebih banyak hal lagi. Bukan sekedar hitungan matematika, tapi juga tentang perjuangan! Tentang bagaimana bertahan di tengah semua goncangan dengan strategi paling tepat. Tentang bagaimana bersaing secara sehat. Bayangkan, dalam satu blok pasar ada banyak pedagang dengan jenis jualan sama. Tapi semua berjalan baik-baik saja, betapa sehat persaingan mereka. Juga tentang untung-rugi dan bagaimana menyiasati. Pemikiran kompleks, pedagang tentulah orang yang cerdas dan pandai membuat perhitungan. Hebatnya, mereka menjalankan semua itu tanpa mengenyam teori dari Fakultas Ekonomi.
Banyak yang kupelajari dari pasar tradisional, tak terkecuali dari pasar tradisional Pekanbaru di waktu subuh itu. Bersyukur dan berjuang!
Selain pasar tradisional di pagi buta, sisi lain Riau yang menarik perhatianku adalah daerah transmigrasi di kabupaten entah apa aku lupa namanya. Selama di sini, aku mengendarai motor sendiri. Pengalaman yang luar biasa, mengendarai motor di tengah hutan kelapa sawit. Lucunya lagi, beberapa kali ada burung-burung cantik yang terbang dekat sekali dengan tanganku. Rasanya sulit kupercaya bahwa itu hal yang nyata. Benar-benar menyenangkan. Aku juga turut kakak sepupuku, memetik hasil kelapa sawit. Masya Allah ternyata ini sungguh pekerjaan berat, jangan dipikir aku berhasil. Tak satu pun aku mampu memetik sawit itu.
Ya Allah inikah bahan-bahan minyak yang tersedia di dapur bundaku? Sebelum sampai di rumah, inilah proses yang harus dilalui oleh si bahan minyak. Hasil peluh para penanam sawit! Selama ini aku menutup mata. Tak pernah mencoba melihat lebih dalam kilauan minyak itu, tak pernah berpikir tentang proses panjang di balik itu. Yang kutahu hanya ayam goreng bunda yang tersaji nikmat di meja makan. Aaaah hidupku, aku malu… Hidup teramat sepele yang masih juga sering kukeluhkan. Jauhkan aku dari kekufuran Ya Allah.. T.T
Selain memberi pelajaran tentang rasa malu pada diriku sendiri, Riau juga memberikan kebanggaan tersendiri. Di dekat pintu keluar bandara terdapat tulisan sangat besar. Kurang lebih begini bunyinya: “Besar bangsa karena budaya”. Tulisan itu dibuktikan konsistensinya dengan tuisan arab melayu yang mendampingi tulisan latin pada setiap informasi instansi di Pekanbaru. Belum lagi gedung-gedungnya yang beratapkan khas rumah tradisional Riau. Aku iri, seandainya saja semua gedung pemerintahan di Semarang bercorak Joglo. Tentu Semarang akan semakin cantik dan memiliki nilai plus. Tapi mungkin hanya aku yang terlalu konservatif dan berpikir begitu. Mungkin memang arsitektur Eropa lebih keren di mata orang-orang lain. Aku benar-benar terkesan dengan tulisan arab melayu dan atap gedung-gedung di Pekanbaru ini. Aku bangga masih ada tempat bagi budaya tradisional Indonesia. Menyusupkan keyakinan dalam diriku, bahwa kita tidak akan pernah krisis identitas sebagai sebuah bangsa.
Di Pekanbaru aku juga mencari oleh-oleh sendiri. Dengan modal bahasa minang ini, harga miring pun kudapat! Itulah Riau, menunjukkanku tentang syukur, perjuangan, cinta Indonesia, dan menjadi tempat mempraktekan bahasa minang di luar Depok… :P

_bersambung_

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 11, 2012 in Uncategorized

 

Pulang…

 

Setiap usai ujian tengah semester, selalu kata “pulang” yang terus memenuhi pikiranku…

Tak bisa kuingkari, bayangan rumah yang nyaman, tanpa tugas dan beban pikiran senantiasa datang ketika tugas kuliah mulai gila-gilaan dengan aneka macam ujian. Belum lagi urusan organisasi dan pekerjaan-pekerjaan lain yang harus diselesaikan. Tak mau kalah, hati pun merecoki dengan kegalauan. Lengkap sudah alasan untuk segera menghubungi petugas tiket kereta api Jakarta-Semarang.

T.T

 

 

Pasca UTS semester 5 ini, kondisinya sama. Bahkan lebih tak tertahan. Rasanya ingin ke PAL Kelapa Dua sekarang juga, membeli tiket bus apapun ke Semarang. Kalau harus tak ber-AC-pun aku rela. Aku toh tak akan mati menahan tidak nyamannya berada dalam bus non AC 8 atau 9 jam. Tapi aku bisa benar-benar mati gila menahan hatiku yang terkoyak oleh berbagai hal.

Dan di sini, di tempat bernama Depok ini tak ada satu pun yang bisa membalut lukanya.

T.T

 

 

Oya, aku berkata begini sama sekali tak bermaksud mengingkari keberadaan orang-orang terdekatku di Depok.

Ya!

Untuk kalian yang telah bersedia memberikan pembelaan padaku kala beragam beriita miring tentangku beredar.

Untuk kalian yang mengkhawatirkanku kala aku begitu kalut sampai tak tahu harus berbuat apa.

Untuk kalian yang bersedia mendengarkan semua keluh kesahku yang sangat menyesakkan.

Untuk kalian yang memberikan semangat dengan berbagai cara saat keinginan hidupku menguap entah ke mana.

Untuk kalian yang masih meyakini bahwa aku mampu menorehkan prestasi sedangkan aku sendiri penuh kegamangan.

Untukmu yang tak ingin melihatku dalam keadaan konyol dan selalu menyebutku dalam doamu.

Bukan aku tak menganggap keberadaan kalian, namun aku tahu pasti kita semua punya urusan. Aku tahu ada banyak hal yang juga harus kalian selesaikan. Aku tak mau merepotkan, hanya tak mau mengganggu rutinitas yang harus kalian jalankan. Tak mau mengurangi waktu kalian yang bisa dipakai untuk kegiatan yang lebih menghasilkan.

 

 

Ya!

Sisi manjaku muncul lagi. Menyeruak tak tertahan saat banyak hal serasa medorong untuk menjatuhkanku. Aku terbiasa dijatuhkan, sejak dulu sekali. Tapi, aku tak menyangka ini akan terjadi di tempat yang kuhormati ini. Mungkin niatnya bukan untuk menjatuhkanku, tapi tetap saja itu menyakiti. Seandainya mereka tahu yang disebut beban psikologis!

 

 

Bukan hanya itu, tempat ini begitu kuhormati, kudatangi dengan indahnya mimpi-mimpi efek dari membaca Laskar Pelangi. Tempat ini kudatangi dengan idealisme tertinggi, cita-cita suci untuk pertiwi. Akan tetapi, lihat yang kudapati.

Aku tahu, sangat tahu, dunia tak bisa selalu seperti keinginan kita. Tapi ini keterlaluan, tak sedikitpun hal menuntunku pada sesuatu yang mendekati ekspektasi. Dulu, dengan tekad baja aku katakan siap menghadapi misteri yang sama sekali belum kuketahui. Namun siapa sangka, yang kutemui bukan misteri yang harus ditaklukan dan butuh perjuangan. Misteri itu hanyalah berwujud ujian untuk berdamai pada keadaan. Mau dijadikan manusia seperti apakah aku usai menempuh ini?

 

 

Bahkan semakin lama, rasanya aku justru menjadi manusia yang aimless di tempat ini. Maaf kalau menyinggung sebagian besar orang, aku hanya mencoba jujur pada keadaan. Terserah bagaimana aku dipandang karena hal ini. Tapi, aku memang tak mau membatasi diri hanya sampai sejauh ini. Aku pembelajar sejati! Kalau jalanku memang bukan di sini, aku yakin sekali Allah punya rencana lain agar aku menimba ilmu di tempat-tempat lain. Ilmu untuk selalu dipelajari dan diamalkan demi diriku yang lebih baik bahkan mungkin untuk sekitarku yang lebih baik.

 

Ahh ya, kata “pulang” ini kembali berdengung-dengung.

Air mataku sudah tumpah ruah, dan biasanya kalau di rumah, bunda akan segera memelukku. Mengusap lembut kepalaku. Ayahku akan turut merangkulku, memberikan pundaknya agar aku berbagi beban dengannya. Tapi di sini, hanya lantai kamar ini yang keras dan begitu dingin menemani sujudku. Ya Rabbi, imanku belum setinggi itu. Aku belum cukup ketika yakin akan penyertaan-MU. Aku masih butuh pelukan sayang dan dukungan orang yang benar-benar peduli padaku.

T.T

 

 

Tapi tekadku, logikaku masih berjalan sebaik-baiknya. Akal dan semangatku lebih kuat dari perasaan dan keinginan bodohku. Aku akan bertahan! Aku akan menghadapi ujian! Aku akan lulus dengan baik! Demi mereka yang rela memberikan nyawanya jika diminta untukku. Aku tidak akan kalah karena mereka telah mempersiapkanku belasan tahun untuk menghadapi apapun. Aku tidak akan tumbang karena dijatuhkan dengan cara apapun karena mereka telah menanamkan penopang kuat di dalam diriku sendiri!

 

Ada sedikit keinginan untuk membuktikan kepada siapapun yang berpikir buruk tentang aku bahwa mereka salah! Bahwa aku mampu dan tetap bisa melakukan yang terbaik. Tapi kupikir itu konyol. Untuk apa harus kubuktikan? Seberapa penting pendapat mereka untuk diriku, untuk hidupku?

 

Biarkan mereka dengan pandangannya, yang tak tahan kritik dan tidak logis.

Biarkan aku dengan perjuanganku, meraih mimpi-mimpiku yang manis.

 

Keinginan untuk membeli tiket entah bus atau kereta kusisipkan kembali ke dasar hati karena minggu depan sudah mulai ujian.

Dan logikaku kembali menang dari perasaanku!

Senyumku merekah meski masih diiringi air mata…

:)

 

 

Penuh kejujuran

Kamar kos tercinta, ba’da Ashar

12-12-2011

Rina Noviyanti

 
2 Comments

Posted by pada Januari 23, 2012 in Uncategorized

 

Hujan…

Masih basah bajuku kini,

Sisa dari hujan beberapa menit tadi,

Aku hujan-hujanan lagi,

Setelah terakhir melakukannya tahun lalu di bulan Januari.

 

 

Aku menerjang hujan

di jalanan setapak yang menghubungkan rektorat dan FIB,

berlari-lari kecil sambil melompat-lompat menghindari kubangan air.

Pohon-pohon dan tanaman cantik yang terlihat sayu menahan terpaan sang tirta

menatap langkahku yang tergesa menyibak air-air di jalan setapak.

Mungkin langkahku terlihat ceria,

disaksikan megahnya crystal of knowledge yang berdiri angkuh

diselimuti rumput-rumput hijau dan dihiasi kaca-kaca.

Namun tetap semua nampak muram karena hujan menutup aura cerianya.

 

 

Hanya langkahku yang diiringi lompatan yang menunjukkan adanya semangat dan dinamika.

Namun kalau saja, pepohonan dan tanaman itu tahu

bahwa aku sedang tak seceria lompatanku.

Andai saja gedung perpus muram itu tahu

bahwa pikiranku tak sestabil langkah cepatku.

Aaaaah hujan,

aku suka hujan,

selalu menyukainya.

Meski kadang aku kesal padanya,

karena ia menghadirkan aura muram yang melemahkan semangat.

Bagaimanapun, hujan menutupi kenyataan bahwa aku menitikkan air mata.

 

 

Air mata yang mengalir karena ketakutan pada bertambahnya usia,

pada ibadah yang masih jauh dari kata sempurna,

pada turunnya IPK,

pada kuliah yang terasa semakin menggila,

pada prestasi yang belum seberapa,

pada bakti-bakti lain yang ingin kupersembahkan untuk orang tua,

pada beberapa ucapan dan tindakan orang yang menorehkan luka,

pada sahabatku yang sedang dianiaya.

 

 

Ya, aku takut menjemput usia dengan kepala dua.

Aku sangat takut jika ditanya pertanggungjawaban dari ibadahku,

sudah seberapa banyak aku mengingat dan memujiNYA selama hampir 20 tahun ini?

Aku pun takut jika nilai semester ini jauh dari harapan.

Aku takut jika ilmu satu semester ini tak terserap dengan baik.

Aku takut semua yang telah orang tuaku berikan belum mampu kumanfaatkan sebaik-baiknya,

aku amat takut tak punya cukup waktu membahagiakan mereka.

Aku takut membenci orang-orang yang mengusik kebahagiaanku.

Aku takut sahabat tersayangku terluka karena orang-orang yang iri padanya.

Air mataku tak berhenti menitik memikirkan itu semua.

Dan ini bukan di kamarku tapi di jalanan UI meski hanya jalan setapaknya.

 

Hujan,

aku harus berterima kasih padaNYA yang menurunkan hujan kini,

karena hujan tangisku tersamarkan…

 

 

Hujan, membantu meredam sesak yang membuncah memenuhi dada.

Hujan, menolongku menyiram hati yang haus rasa percaya.

Hujan, menyediakanku ruang untuk membebaskan diri, mengabaikan segala kata orang.

Hujan, mengobati rinduku pada kebebasan alam yang dulu selalu kunikmati pada setiap pendakian.

Hujan, meski hanya kurasa sepanjang jalan setapak taman dekat perpus tapi

Hujan, memberiku kebahagiaan yang lama tak kutemukan.

 

Ketika air itu menjejak tanah dan memercik, menghasilkan aroma khas alam yang sulit dideskripsikan.

Ketika air itu berlomba-lomba membasahi bumi, membawa serta anganku pada banyak hal.

Dan yang kutahu, hujan ini tak peduli bagaimana perasaanku padanya.

Tetap turun meski aku kesal, tetap membasahi baik saat aku nanti ataupun tidak.

Hujan ini tak repot-repot mengomentari.

Sederhana saja, mungkin juga karena aku bisa melupakannya dengan lebih sederhana.

Saat air hujan sirna digantikan mentari yang bersinar, aku bisa lupa semua rasa yang timbul ketika hujan.

Sesederhana itu.

Betapa indah hubunganku dengan hujan.

Tak saling mempedulikan, namun memberikan berbagai rona ketika bersua.

 

 

Terima kasih Allah karena menurunkan hujan, terima kasih karena memberiku kesempatan berhujan-hujan sebelum usiaku beranjak meninggalkan angka 19…

:)

 

 

sesaat sebelum buka

penuh cinta

Rina

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 23, 2012 in Uncategorized

 

Ampuni Aku…

Ya Ghofar, mungkin aku butuh lebih banyak lagi istighfar…

Aku meragukan makhuk mulia ciptaan-Mu akibat serangkaian cerita masa lalu. Tertanam kuat dalam benakku bahwa tak ada yang sayang dan peduli padaku selain keluarga terdekatku.

Namun, sepertinya aku salah dan semoga memang aku salah. Ada sahabat yang tak suka melihat aku terpuruk, dan sikap itu tentu tak bisa dibilang sebagai sikap tak peduli. Ia menyemangatiku dengan caranya, ia menyayangiku dalam sikap anehnya, dan kami lebih dari sekedar cukup untuk menjadi lambang toleransi. Sikap kami jauh berbeda, minat kami pun berada di tempat yang amat berseberangan, belum lagi keyakinan kami. Namun kami tetap makhluk ber-Tuhan yang sama-sama pesimis melihat gilanya dunia, lalu kami tertatih melawan arus tak menentu untuk membawa diri kami menemui sesuatu yang kami sebut mimpi. Mimpi untuk melangkah ke berbagai penjuru dunia, dan berbagai altar suci universitas terkemuka. Mimpi untuk menimba pengetahuan dan merasakan sari pati hidup (meminjam istilah Andrea Hirata). Ya, aku bahkan senang memakai kata ganti kami ketika menceritakan tentangnya, karena seolah perspektif kami bisa disatukan meski tak berada pada sisi yang sama. Ya Allah, ia adalah hadiahMu yang membantuku dalam banyak hal terutama belajar mengenai sikap hidup itu sendiri. Ia yang menolak memelukku di depan banyak orang, bukan karena ia tak mau menguatkanku. Ia hanya mau aku selalu kuat di hadapan orang-orang yang berusaha menjatuhkanku. Ia yang memarahiku saat aku terlarut dalam perasaan tak menentu mengenai suatu urusan, bukan karena ia lelah mendengar keluh kesahku. Ia hanya mau aku mengikis habis kekonyolan subjektifitasku yang berlebihan.

Astaghfirullah, ada seorang sahabat yang Engkau kirimkan untukku…

 

 

Seperti semakin ingin menegurku, Allah membuktikannya bertubi-tubi minggu ini. Aku galau tak menentu di Plaza Atrium Senen sampai sekitar pukul 10.00 malam. Menikmati kesendirianku di Toko Buku Gunung Agung yang membuatku enggan beranjak itu. 4 jam lebih aku membolak-balik puluhan buku dan berkeliling ke semua rak, namun tak membeli barang satu. Membeli ice cream double chocolate di KFC dan baru sadar bahwa itu adalah malam minggu. Aku duduk sendiri di pinggir kaca yang menyajikan panorama jalanan Senen di malam hari. Sementara itu di sekelilingku, muda-mudi duduk berpasangan. Sial, aku dikelilingi orang pacaran dan nampak begitu kesepian. Kutarik kesimpulan bahwa toko buku jauh lebih menyenangkan dibanding tempat makan. Maka aku segera kembali ke toko buku daripada harus menggalau menatap orang-orang yang makan dengan teman atau mungkin pasangan. Setidaknya di toko buku aku bisa merasa ditemani Bung Hatta melalui tuturan orang yang menuliskan kisahnya, atau aku merasa jalan-jalan di negeri Sakura ketika menyusuri huruf-huruf yang menguraikan keadaan negeri Jepang sana. Tak ada galau-menggalau selain karena aku ingin membawa pulang semua buku namun hanya ada uang kurang lebih 100000 di dompetku. Merananya malam mingguku…

Saat aku begitu merana, ada kawan yang menemaniku melalui sms. Mengirimi pesan-pesan bernada mengkhawatirkan. Belum lagi, ada yang menyuruhku pulang naik taksi dan bersedia membayarkan biaya taksi itu. Ternyata ada pula kawan-kawan yang mengkhawatirkanku. Astaghfirullah, bukankah mereka Engkau hadirkan untuk mengisi hidupku Tuhan?

 

Kemudian kini, ketika aku butuh bantuan ada saja yang menawarkan. Tak tanggung-tanggung ada yang sampai ingin menjual darahnya untukku. Ya Rabb, ini lah kualitas makhluk mulia ciptaan-Mu.

 

*bersambung*

*ngantuk banget*

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 23, 2012 in Uncategorized

 

Teruntuk Teman-teman Penulisan 2011 KSM Eka Prasetya UI

Setiap usai berbincang dengan anak-anak penulisan KSM EP UI 2011, selalu hadir pertanyaan untuk diriku sendiri. Entah itu perbincangan melalui tatap muka langsung maupun melalui sms atau chat. Setelah masa kepengurusan ini berakhir, akankah perasaan bahagia saat berkontak dengan mereka ini juga turut berakhir? Tujuh sosok luar biasa ini sungguh membuatku terkesan. Mengesankanku dengan caranya sendiri-sendiri.

 

Aku tak pernah menyangka dedikasi mereka untuk KSM begitu tinggi. Mengerjakan berbagai jenis proker dalam satu waktu di tengah kesibukan-kesibukan yang lain. Luar biasanya lagi, mereka berhasil mengerjakan proker-proker itu. Sungguh, kelebihan-kelebihan mereka berhasil menutupi kekurangan-kekuranganku di dalam departemen penulisan. So proud of you Guys!!! ^^

 

Sejak tadi aku hanya menyebutkan tujuh orang tanpa memperkenalkan mereka ya? Baiklah ini dia mereka: jeng jeng jeng

Novita Eliana, Niwa Rahmad Dwitama, Silvi Octen, Inraini F. Syah, Oktioza Pratama, Aan Mi’dad Arriza, dan Meilisa Rahmawati. Mereka sungguh membuat aku bertahan di KSM, menumbuhkan kembali semangatku yang padam bak disiram air dari mobil pemadam kebakaran. (perumpamaan macam apa ini??? hahaha)

Seandainya PSDM memberi departemen kita rapor merah, maka aku tidak peduli. Karena bukan pengakuan yang kucari, aku mencari semangat berkontribusi. Aku mencari kebahagiaan ketika berkarya menghasilkan hal-hal berguna. Dan semua itu sudah cukup kulihat dari kalian. Tingkatkan kawan-kawan!

Maaf aku memang koordinator yang payah sehingga kita belum pernah berhasil meraih gelar division of the month, tapi itu bukan satu-satunya tujuan kita bukan?

 

Aku sudah sangat bahagia saat satu per satu nama Meilisa, Novita, Aan, Kak Oza, dan Kak Iin menghiasi media massa. Aku pun sangat yakin nama Silvi dan Tama akan segera menjadi pengisi kolom-kolom lain berikutnya. Aku juga bahagia melihat silabus KKP dan krida menghias inbox emailku dengan manis. Aku senang sekali saat sebagian anggota KSM menanyakan “kapan KKP?”. Aku senang ada yang mengaku tumbuh motivasi menulisnya setelah krida atau KKP. Silvi dan Novi, pasti terima kasih tidak akan cukup untuk menggantikan apa yang telah kalian lakukan. HEBAT!

 

Hatiku juga sangat berbunga-bunga ketika Meilisa mengajukan beberapa tema Dialektika. Tinggal menunggu eksekusi saja ya Mel? Pastinya merepotkan di tengah praktikum semester 5mu dan kesibukanmu untuk nari, pemira, dan lainnya. Makasih banyak Mel… :)

 

Sekolah PIMNAS, sebuah wujud nyata KSM untuk membuktikan komitmennya menumbuhkan semangat keilmuan di UI. Aan yang kuliah di Salemba dan tinggal di Rawamangun, rela untuk sering-sering ke Depok dan bekerja ekstra keras untuk acara ini. Sekarang masih berada di tengah jalan, sukses untuk acara ini ya! :)

 

Kak Iin, jadi bikin pelatihan yang kerja sama dengan media? Akan sangat menarik tentunya.. :D

 

Email penulisan kita, meski kurang efektif tapi toh tetap ada yang mengirimkan tulisannya ke situ. Hanya kurang follow up kita saja. Mungkin perlu kita bicarakan lagi untuk efektifisasinya… Kak Oza semangat ngecek tiap hari yaaa! :D

 

Satu lagi proker yang OK BANGET, Jurnal Makarawiratama. Proker ini selalu membuatku terharu… *menitikkan air mata*

Tak jarang rapatnya membuat Tama, Novi, Ipi, dan Kak Oja pulang larut. Tentu saja diselingi sesi galau yang lebih lama dibanding membahas jurnalnya sendiri, haha

Masih lagi setelah rapat, aku, Novi dan Kak Oja melanjutkan sesi galau berikutnya.

Berada di lobi FH dengan internet yang cenat-cenut itu, makan nasi bungkus dan sebotol aqua dengan guyonan “security question”, hahahaha

Setelah itu aku, Novi, dan Kak Oja membelah jalanan UI di tengah malam dengan jalan kaki. Memori ini tak mungkin terhapus, tak akan mungkin.

Masih ada pula menyelesaikan proposal di FISIP, kelaparan menunggu makanan dan makan bersama dengan candaan drama minang “Si Octen dan Si Amaik”… :D

Tama mengantarkan Silvi sampai ke kosnya yang itu jaraknya sangat jauh. Percayalah yang kalian lakukan tidak akan sia-sia.. :)

Setelah itu lagi-lagi, aku dan Novi jalan kaki di bawah langit malam UI, Kak Oja menemani dengan mendorong motornya. Entah ini bisa disebut manis atau bodoh, kalau mau efektif Kak Oja bisa mengantarkan kami satu per satu sebenarnya. Tapi kami memilih jalan kaki dan mendorong motor, karena efek galaunya akan berbeda. hahahaha

Masih ada pula acara istirahat di halte bikun FE yang luaaamaaaa sekali, padahal sudah sangat malam. Mungkin malah lewat tengah malam. *kelakuan anak muda*

*geleng-geleng*

Mungkin melelahkan teman tapi semua ini nanti akan terbayar ketika sebuah jurnal ilmiah yang memuat berbagai pengetahuan serta ide luar biasa di dalamnya. Jurnal yang akan menjadi sumbangan berarti dalam kehidupan akademis. SUKSES!

 

 

Mengingat semua itu, pertanyaan yang sudah kukemukakan di awal selalu muncul.

Masih bisakah aku sms Meilisa lagi untuk mendiskusikn tema-tema tulisan ataupun membahas tulisannya yang bagus-bagus itu setelah aku tidak lagi menjadi koordinator departemen penulisan?

Masih bisakah aku meneror Aan menanyakan siapa pembicara dan pretelan-pretelan acara setelah proker penulisan 2011 diselesaikan?

Masih bisakah aku memaksa Silvi menyiapkan segala sesuatu tentang krida setelah nantinya krida bukan lagi tanggung jawab kami?

Masih akan adakah ngenet dan makan bersama Kak Oja dan Novi setelah LPJ departemen penulisan 2011 tersusun?

Masih bisakah mendapatkan update penyusunan jurnal dari Tama setelah jurnal makarawiratama vol.2 dicetak dan tersebar di mana-mana? *amin*

Masih bisakah ada banyak kebersamaan bersama Kak Iin yang selalu penuh inspirasi dan tawa? *mengingat Kak Iin akan kembali ke Sulawesi sana*

 

Sekali lagi, banyak yang tak ingin kuakhiri dari kebersamaan kita yang tak lama ini. Maka aku sungguh berharap agar kebersamaan kita tak dibatasi oleh berakhirnya masa kepengurusan. Tetap berkarya kawan! Keep in touch all! :)

 

 

Peluk sayang,

diselesaikan sambil menunggu orang sholat jumat selesai

di  belakang gedung 4 FIB UI, pukul 12.55 WIB

Rina Noviyanti

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 23, 2012 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.